MARKUS
monolog
Putu
Wijaya
LAMPU
MENDADAK MENYALA
Ketika
mendengar aku mengutuk-utuk “markus”, tiba-tiba tetangga di sebelah itu
langsung berkoar-koar. Suaranya lantang dan menantang. “Tapi kalau Tuhan
mengizinkan, saya akan tarik anak saya dari sekolahnya di luar negeri. Biar dia
di rumah saja jadi ‘markus’!” Aku tercengang.
Dia
tertawa mengejek. “Anda masih ingat tidak, di masa lalu, semua orang
bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Alasannya ada jaminan pensiun. Kalau
menyekolahkan anak tujuannya hanya tiga: jadi dokter, insinyur atau mister.
Mister in de Rechten kemudian turun pamor karena gelar Mr. diganti jadi sarjana
hukum Kedengaran kampungan. Sekarang kalau tidak terpaksa orang ogah jadi
pegawai negeri. Ngapain mati berdiri! Tujuan pembelajaran sudah beda.




