SAM PO KONG (Episode 1-5)

Karya Remy Sylado

(Cerita ini diprosakan dari bentuk aslinya sebagai skenario film yang dirancang oleh Rumah Produksi Annzora Ideacitra Semarang)

SETELAH berjam-jam melaju di jalanan panjang yang lumayan meletihkan, akhirnya bus carteran yang membawa anak-anak sekolah dari kawasan Grogol, Jakarta Barat, tiba di Simongan, Semarang. Bus itu berhenti di halaman muka kelenteng Sam Po Kong.

Seorang lelaki berambut panjang, yang oleh anak-anak sekolah itu dijuluki Tukcer, singkatan Tukang Cerita, adalah guru sejarah yang memimpin rombongan itu. Dia berhenti di bangunan pertama di mulut kelenteng.

"Nah, anak-anak, inilah kelenteng Sam Po Kong. Kalian boleh terkejut. Tapi aku minta kalian percaya pada ceritaku, bahwa tempat ini dipercaya banyak orang dari abad ke abad sebagai makam bahariwan Muslim, Ceng Ho. Dia diutus oleh Kaisar Ming ke sini dan dalam pelayaran yang terakhir, kapalnya karam di sini, dan selanjutnya wafat di sini," kata Tukcer.

Anak-anak itu melihat ke sana ke mari, kemudian duduk bersila mengelilingi Tukcer.

"Tokoh Ceng Ho, yang sering juga disebut dengan banyak nama, misalnya Sam Po Tay Jin, Sam Pao Toa Ren, dan lain-lain, termasuk yang paling populer Sam Po Kong, ini harus diakui, sangat unik," kata Tukcer.
Seorang anak yang dari tadi menggigit-gigit permen karet menepuk lutut sang Tukcer. Tampaknya dia yang paling berminat mengetahui cerita tentang Ceng Ho yang Sam Po Kong itu. Sambil menepuk lutut Tukcer, dia berkata, "Uniknya bagaimana, Pak Tukcer?"

"Begini," kata Tukcer, menghela nafas terlebih dulu, lalu mengembusnya. "Ceritaku tentang Sam Po Kong ini berbeda dari sejarah yang ditulis oleh beberapa ahli sejarah, baik yang ahli sejarah Belanda, Prancis, maupun Cina. Oleh sebab itu, kalau kalian ingin mengetahui ceritaku tentang Sam Po Kong, pertama, aku minta kalian harus berpihak dulu pada kebenaran yang aku tawarkan. Menurut penelitian sejarah yang paling akhir, Ceng Ho tidak pernah ke Semarang. Padahal menurut sumber sejarah yang lain, disebut dengan jelas bahwa Ceng Hong pernah memimpin salat Jumat di sini. Nah, itulah uniknya."

Anak yang bertanya tadi, kembali bertanya, "Yang sebenarnya bagaimana, Pak Tukcer?"

Tukcer tertawa pendek. Katanya, "Cerita sejarah tidak ada yang disebut paling benar. Sebab, semua cerita sejarah dibuat berdasarkan kemauan untuk membuat orang percaya pada kebenaran yang hendak diacu. Makanya, bisa juga dibilang, sebuah cerita sejarah, bagi pihak yang tidak percaya, dianggap tidak benar.

Yang penting dari sikap kalian sekarang terhadap cerita yang aku tawarkan ini, adalah percaya bahwa sebuah serita sejarah harus selalu berpihak. Cerita sejarah tidak sama seperti buku telepon di mana semua nama dihadirkan dengan kedudukan sama penting. Dalam cerita sejarah, ada nama yang baik, ada juga nama yang jahat, dan banyak pula nama yang harus hilang sebab dianggap tidak penting menentukan bagan: bagan dalam prosa disebut "plot" bagan dalam film diejawantahkan melalui konsep "gambar bergerak."

"Tunggu, Pak Tukcer," kata anak yang paling serius menguping cerita sang Tukcer. "Sekarang kalau menurut Pak Tukcer, Ceng Ho ini nama yang baik atau jahat?"

Lagi Tukcer tertawa pendek. Tapi dia menjawab dengan sikap yang sangat madya. "O, sudah tentu, menurutku, dalam plus-minusnya-sebab manusia sejati tidak bisa terus-menerus plus dan tidak bisa pula terus-menerus minus-harus dibilang manusia Ceng Ho itu sangat luar biasa. Ini termasuk cara generasi penerus memberi apresiasi kepada cerita-cerita sejarah. Yaitu, harus dikatakan: Ceng Ho itu sakti, cerdik-cendekia, bijak-bestari, kemudian jangan lupa dia pendekar dan dia kasim. Kalau tidak begitu, mana mungkin Zhu Di, kaisar Ming, memilihnya untuk memimpin ekspedisi pelayaran ke sini demi kebesaran Dinasti Ming."

Dan, Tukcer menutupkan mata, mengajak anak-anak sekolah itu membayangkan Ceng Ho. Dan, hadirlah gambaran-gambaran hidup dalam imajinasi mereka, mundur sekian abad, dimulai dari tahun 1400-an nun di negeri Cina sana.

***

Malam itu Ceng Ho sedang sujud di Masjid Jing Jue di Nan Jing menunaikan salat isya. Sebagai keluarga muslim taat, Ceng Ho yang putra Mi Jin berjuluk Ma Ha Ji atau Haji Ma, tak pernah mengabaikan salat.

Kini, ketika dia sedang melakukan salat di masjid, tak dia ketahui dua pasang mata dari luar masjid sedang mengintai, disuruh oleh seseorang yang belum diketahui.

Maka tanpa beban, dan tanpa menaruh curiga, walaupun itu tidak berarti dengannya ia kehilangan kewaspadaan, seusai sembahyang Ceng Ho leluasa keluar dari masjid, berjalan di tengah gelap menuju pulang.

Sekonyong-konyong ia terjaga. Dua orang yang tadi mengintai itu kini berada di depan jalannya, di bagian yang amat pekat, karena malam tiada berbintang, mengadang di situ dan siap menyerang Ceng Ho dengan pedang-pedang terhunus.

Ceng Ho segera waspada, menghitung gerakan yang paling kecil sekalipun, untuk menghadapi orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Matanya tajam. Dia menunggu. Dia mungkin mengira bahwa tidak mungkin hanya dua orang itu saja yang berada di sekitar jalanan gelap ini. Pasti ada orang-orang lain. Dan, sangkanya tidak meleset. Memang masih ada orang-orang lain yang sudah menghunus pedang mereka, yang akan mengeroyok Ceng Ho. Tiga orang muncul berbarengan di belakang Ceng Ho.

SAM PO KONG [2]
Karya Remy Sylado

Tak berapa lama, hanya hitungan detik, setelah kaki-kaki mereka benar-benar merasa tegak di tanah, serempak dari arahnya masing-masing mereka menyerang Ceng Ho. Dengan tangan kosong, berhubung Ceng Ho baru pergi ke rumah ibadah, ditangkisnya serangan tikus-tikus itu. Dan, memang, karena orang-orang itu hanya pendekar kelas tikus got, satu persatu mereka berhasil dikalahkan oleh Ceng Ho. Satu per satu Ceng Ho menangkap dan menotok tak berkutik.

Salah seorang berusaha lari. Melihat yang empat keok, tewas mengenaskan dan konyol, maka yang satu terakhir ini cepat-cepat mengambil langkah seribu: berlari. Tapi Ceng Ho meloncat seperti terbang, kedua kaki terangkat dari bumi, kemudian di jarak yang jauh di depan, di muka orang itu, Ceng Ho berdiri mengadang. Dengan sekali bergerak, yaitu melalui perhitungan jitu, Ceng Ho berhasil pula menangkap tikus got yang satu ini. Dengan suatu keterampilan yang alih-alih Ceng Ho memutar tangan orang itu, siap hendak mematahkannya. Orang itu berteriak ketakutan, meminta ampun, putus asa.

''Ampun, Tuan, ampun,'' katanya gemetar, setengah menangis setengah menyembah. ''Jangan bunuh aku, Tuan Ceng Ho.''

Ceng Ho tak melepaskan. ''Siapa kalian?''

''Kami bukan siapa-siapa,'' jawab orang itu.

Ceng Ho menariknya. ''Dari mana kamu tahu namaku?''

''Kami hanya disuruh.''

''Siapa yang menyuruhmu.''

''Kami sendiri tidak kenal orangnya.''

''Bohong!'' Ceng Ho membentak, mengencangkan tangannya.

Orang itu mengaduh-aduh. ''Betul, Tuang Ceng Ho. Betul, Ampuni aku.''

''Baik,'' kata Ceng Ho menghempas, dan orang itu berpelanting ke tanah. ''Kalau begitu, bilang, siapa nama orang yang menyuruh kalian.''

Orang itu kelihatan sangat ketakutan, merinding, namun juga mencoba tulus dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini. Dia komat-kamit hendak mengatakan sesuatu, memandang ke kiri ke kanan yang gelita karena malam kian merangkak.

Tiba-tiba, dalam, keadaan seperti bingung, tanpa diketahui siapa pun, sebuah senjata pipih dan kecil, terbang dari kegelapan, langsung mengena leher orang itu. Sekejap saja orang itu mati terkulai di tanah.

Ceng Ho terkesiap. Jengkel. Geregetan. Dia memandang ke kanan, ke bagian yang gelap sangat, tapi yang menurut nalarnya merupakan tempat dilemparkannya senjata pipih yang mematikan itu. Dia berteriak keras, nyaring, mengumpat ke arah itu.

''Hei, setan!'' katanya. ''Siap kamu?! Keluar kamu dari situ.''

Tiada jawaban. Tiada tanda-tanda akan kemungkinan seseorang yang berjiwa jantan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.


* * *

Beberapa saat kemudian, Wan San masuk tergopoh-gopoh ke sebuah rumah. Siapa Wan San? Dialah orang uang melemparkan senjata hebat itu. Dia datang menemui tuannya: tuan yang mengupahnya melakukan pekerjaan tak jantan. Tuannya itu Dang Zhua. Sang tuan sedang duduk menunggu berita dengan perasaan tidak tenang. Di hadapannya duduk pula Hua Xiong.

Begitu Wan San masuk, Dang Zhua berdiri. Kelihatan sekali keadaan dirinya yang tak sabar menunggu jawaban Wan San. Kata pertama yang diucapkannya adalah keinginannya untuk memperoleh jawaban yang menyenangkan.

''Berhasil?'' tanya Dan Zhua.

Wan San sulit menjawab. Kalaupun dia tidak menjawab yang benar berikut ini, Dang Zhua dapat menduganya. Katanya, ''Maaf. Mereka tidak berhasil.''

Dang Zhua geram. ''Apa maksudmu mereka tidak berhasil? Katakan!''

''Ya,'' jawab Wan San dengan sulit, namun terucapkan pula dengan jelas. ''Mereka tidak berhasil menyingkirkan Ceng Ho.''

Dang Zhua menghardik keras. ''Gila!'' katanya. ''Mereka itu lima orang. Ditambah dengan kamu, seluruhnya setengah lusin. Mana bisa enam orang kalah hanya oleh satu orang.''

Wan San pelegak-peleguk. Dia mengakui kenyataan ini dengan sangat pahit. ''Tapi Ceng Ho memang sakti.''

Dang Zhua menjadi kampungan. Dia meludah. ''Cuh! Kalian pendekar apa? Bagaimana mungkin enam orang pendekar kalah pada satu orang thay chien *) dari Yuan Nan?''

Didorongnyan dada Wan San. ''Pendekar macam apa kalian? Benar-benar gila. Apa yang harus aku katakan pada Menteri Liu?''

Dengan kepercayaan diri yang tidak terlalu utuh, Wan San coba menyakinkan sesuatu yang sebetulnya dia sendiri tak yakin. Katanya, ''Tidak perlu pesimistis, Tuan. Kalau saya berkata tidak berhasil, itu tidaklah otomatis berarti gagal''. Masih ada besok yang lebih baik. Saya bersumpah, besok, dengan melipatgandakan pendekar yang lebih tangguh, saya jamin thay chien dari Yun Nan itu akan lewat, selesai, habis.''

''Tidak bisa,'' kata Dang Zhua. ''Besok pagi kaisar akan mengumumkan keputusannya untuk menugaskan Ceng Ho sebagai laksamana yang akan memimpin misi pelayaran muhibah ke negeri-negeri selatan, Campa, Jawa, dan terus ke India, Arab.''

Seraya membungkuk dengan sikap sembah dan takzim Wan San berkata, ''Kalau begitu, saya atur sekarang juga, Tuan. Tuan akan mendengar kabar langsung dari mulut saya sebelum matahari terbit pagi nanti.''

Dang Zhua melemparkan pandangan kepada Hua Xiong, lalu berdiri berkacak pinggang di muka Wan San. Suaranya menumpul. Katanya. ''Apa kamu yakin?''

''Yakin, Tuan Dang Zhua,'' jawab Wan San. ''Saya bertaruh mati untuk tuan kalau saya gagal.''

''Kalau begitu, cepat, laksanakan,'' kata Dang Zhua.

''Baik, Tuan,'' kata Wan San, memberi hormat kepada Dang Zhua dan Hua Xiong.

Wan San meninggalkan rumah Dang Zhua, melaksanakan perintah itu. Hua Xiong pergi ke rumah Menteri Liu yang tadi sudah disebut oleh Dang Zhua. Malam makin malam.

SAM PO KONG [3]
Karya Remy Sylado

Yang disebut Menteri Liu, tak lain dan tak bukan adalah Liu Ta Xia, menteri ekonomi dan keuangan dalam pemerintahan Zhu Di, sang kaisar.

Liu Ta Xia tampak tegang. Ketegangannya terlihat pada sikapnya yang mondar-mandir di ruangan besar rumahnya. Melihat itu Hua Xiong menenangkannya, berlaku sok arif, dan hal itu sebetulnya tidak pas untuk manusia sekelas cecunguk.

''Tenanglah, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong. ''Sebentar lagi Dang Xhua akan hadir di sini memberikan laporan keberhasilan pendekar-pendekar upahannya. Mereka itu orang-orang yang paling canggih bergerak dalam gelap, menjalankan tugas menghentikan manusia dari kodratnya.''

Liu Ta Xia menarik baju Hua Xiong. ''Jangan berkicau. Buktikan lebih dulu.''

''Percayalah, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong.

Liu Ta Xia mengempaskan Hua Xiong. ''Kamu harus tahu, ini masalah besar: masalah yang menyangkut ribuan manusia, termasuk aku, kamu, dan seluruh negeri akan terkena batu akibat anggaran belanja negara yang terisap dan kebobolan demi ambisi kaisar yang tidak jelas. Supaya ambisi itu padam, sumbunya, Ceng Ho harus dihabiskan. Kamu mengerti?''

Hua Xiong menghormat. ''Tenanglah, Tuan Menteri.''

''Jangan asal buka mulut kamu,'' kata Liu Ta Xia. ''Apa yang membuatmu yakin?''

''Maaf, Tuan Menteri,'' kata Hua Xiong. ''Dang Xhua tidak mungkin keliru memilih ular. Dia sendiri pandai menjadi tikus.''

Lalu, sekonyong-konyong terdengar seseorang membuka pintu. Kedua orang, baik menteri maupun Hua Xiong serta-merta menoleh ke pintu itu. Di situ muncul Dang Zhua tergopoh-gopoh. Keringat berbintik di dahinya. Dia berdiri bingung.

Liu Ta Xia melihat sesuatu yang mungkin membuat hatinya tawar. Maka dia maju mendekati Dang Xhua, menjejalkan pertanyaan yang menunjukkan keinginannya untuk memperoleh jawaban yang semoga menggirangkan hati. Dia tarik baju Dang Xhua.

''Jangan bilang tugasmu gagal,'' kata Liu Ta Xia. ''Dari sikapmu yang persis seperti tikus basah, sudah kelihatan gambaran sial, cialat. Ayo, katakan.''

Dang Xhua berusaha menegakkan benang basah. Kalimatnya tidak lancar mengalir dari mulutnya. Katanya, ''Bukan gagal, Tuan Menteri. Ini hanya persoalan waktu. Dalam banyak waktu, ada satu waktu di mana keberhasilan masih tertunda.''

Liu Ta Xia menarik baju Dang Xhua. Dia menekan. ''Tidak usah berbelit,'' kata dia. ''Berbicara yang sebenarnya. Apa yang terjadi?''

''Maaf, Tuan Meteri. Seperti yang baru saya katakan, malam yang sedang berjalan ini keberhasilan belum tercapai. Tapi, malam ini belum mendekati pagi. Malam ini masih malam. Percayalah, Tuan Menteri, sebelum matahari terbit di ujung malam, ular yang melaksanakan perintah rahasia ini akan menyelesaikan tugasnya dengan sukses. Sebelum fajar, Wan San sudah akan mengabarkan kepada kita tentang kematian Ceng Ho.''

Liu Ta Xia memandang nanar ke wajah Dang Zhua. Ada asap di kepalanya yang membuatnya gusar. Sementara di hatinya kelihatannya ada magma yang terus-menerus hendak melanda siapa saja yang dianggapnya musuh.

Benih-benih pikiran dan perasaan yang membuat Liu Ta Xia menjadi begini, asalnya semata karena dia tidak setuju gagasan sang kaisar, Zhu Di, mengutus pelayaran muhibah ke selatan dan terus ke timur yang dipimpin oleh Ceng Ho. Selalu dia berkata di belakang sang kaisar: ''Kalau benar Zhu Di hanya bermaksud mengutus Ceng Ho ke negeri selatan sebagai utusan muhibah, mengapa negara harus mengeluarkan anggaran begini besar, membuat 208 kapal, armada, dan orang bersenjata 28.000 orang, dan dana pelayaran untuk 7 kali mengarungi laut dari Laut Cina Selatan sampai ke Jawa?''

Karena tak setuju pada gagasan Kaisar Ming itu, Liu Ta Xia diam-diam melakukan gerakan rahasia untuk menyingkirkan Ceng Ho. Dia berpikir, kalau Ceng Ho yang selama ini sangat dipercaya oleh Zhu Di mati, selesailah gagasan sang kaisar untuk melaksanakan misi muhibah yang aneh itu. Dia memercayakan tugas gelapnya itu kepada Dang Zhua dan Hua Xiong, sebab kedua orang ini adalah abdi-abdi yang bekerja padanya dengan kepatuhan yang melebihi batas absurd.

****

Demikianlah Wan San yang dipercaya oleh Dang Zhua dan Hua Xiong, kini, di malam yang merangkak menuju larut, telah berhasil mengumpulkan pendekar-pendekar bayaran, sejumlah dua belas orang, berangkat ke rumah Ceng Ho untuk melaksanakan tugas rahasia itu.

Kedua belas orang itu mengendap-endap di dalam gelap. Mereka membagi diri dalam empat kelompok, muncul ke situ dari arah utara, selatan, barat, timur. Wan San terbang dengan gesit ke atas atap. Dia satu-satunya di antara semuanya yang mengenakan tutup hitam di mukanya.

Mereka mengintai. Mata Wan San tak berkedip melihat ke bawah, ke ruang tidur Ceng Ho. Di situ Ceng Ho tidur tak nyenyak, memikir-mikir tentang serangan hampir tiga jam yang lalu. Dia curiga, jangan-jangan salah seorang yang melarikan diri tadi itu akan kembali lagi. Pikiran ini yang membuatnya tak nyenyak begini. Selalu, ketika pikirannya tak tenang, tidurnya pun menjadi terganggu.

Dalam keadaan begitu, dia merasakan sesuatu. Bunyi yang tak bergetar di atas atap rumahnya cukup terekam dalam telinganya. Keruan dia terjaga. Matanya terbuka lebar. Dia pun segera waspada. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan ke depan.

Dia terkejut, walaupun ini tidak berarti dia terguncang, sebab ternyata sudah ada empat orang di dalam rumahnya. Keempat orang itu langsung menyerangnya dengan pedang-pedangnya. Mula-mula Ceng Ho menangkis hanya dengan menggunakan tangan kosong. Dan, dia memang sangat piawai melakukan itu, sehingga keempat orang itu merasa tak percaya diri selain mata-mata naluri untuk membunuh belaka.

SAM PO KONG [4]
Karya Remy Sylado

Tetapi kemudian muncul lagi empat orang ke dalam serambi dan menyerang Ceng Ho dengan sangat liar. Akhirnya, menanggapi dengan perbuatan dan perhitungan, Ceng Ho pun mengambil pedang, lalu melayani kedelapan orang itu. Perkelahian pun berlangsung seru. Namun sudah suratan kedelapan orang pendekar bayaran itu tumbang, tewas, satu per satu tergeletak sia-sia di lantai.

Empat orang yang tersisa yang tergolong lebih cekatan dan lebih sangar menyerang Ceng Ho dan menggiring ke halaman. Agak lama perkelahian di luar ini. Sebab keempat orang terakhir, dengan satu orang yang menutup muka sebagai pemimpin, berkelahi dengan ilmu tinggi. Sungguhpun begitu akhirnya mereka semua kalah oleh Ceng Ho. Satu per satu pula keempat pendekar tangguh itu dikalahkan Ceng Ho. Mereka tumbang di tanah.

Kini tinggal satu orang yang menutup muka tersebut. Dengan kelincahan yang hebat Wan San membuat Ceng Ho terpesona pada kemampuannya berkelahi dengan pedang. Namun harus sekali lagi dikatakan, pendekar hebat pada giliran terakhir ini harus juga mengakui keunggulan Ceng Ho. Dia harus mengaku bukan dengan kata-kata, melainkan menerima kekalahan yang tak sempat terucapkan. Dia tidak bisa berkata apa-apa, sebab di ujung perkelahian itu pedang Ceng Ho telah menebas perut dan dia pun mati konyol di situ. Apabila ingin bicara, dia bicara sebelum mengembuskan nafas terakhir.

Mula-mula Ceng Ho memotong kain hitam yang menutup mukanya dengan ujung pedang yang tajam dan lancip. Begitu kain tersingkap, Ceng Ho terkejut memandang muka orang itu.

''Wan San?'' desisnya, hampir tak percaya. ''Apa maksudmu hendak membunuhku?''

Wan San menceracau. ''Terkutuk kamu oleh Dewi Penguasa Langit Barat dan Langit Timur: Xi Wang Mu dan Dong Wang Gong."

''Siapa yang menyuruhmu?'' tanya Ceng Ho.

''Jangan harap rahasia ini kamu ketahui,'' ucap Wan San ketus, menyeringai sehingga gigi-giginya tampak seperti gigi hewan pemangsa. ''Rahasia ini akan kubawa bersama kematianku.'' Dan, dia balikkan arah pedang dan menikam perut dalam-dalam. Ceng Ho termangu. Apa boleh buat. Rahasia itu tetap rahasia.

***

Dang Zhua dan Hua Xiong pasti kecele.

Tetapi mereka juga tegang. Setidaknya Liu Ta Xia akan mendamprat mereka sebab Wan San tidak muncul sampai fajar menyingsing di ufuk yang sama dengan kemarin.

Dang Zhua dan Hua Xiong menunggu di depan rumah Liu Ta Xia dengan gugup dari menit ke menit. Begitu matahari menerangi bumi, berangsur-angsur mereka yakin telah terjadi sesuatu di luar rencana. Risiko paling buruk pun sudah terlintas sebagai gambar aneh dalam pikiran mereka.

Ketika ufuk timur mengabu-abu, Liu Ta Xia mondar-mandir di serambi besarnya, lantas menuding Dang Zhua dan Hua Xiong di kursi mereka. Katanya antara cemas dan geram, ''Sebentar lagi matahari keluar di sana. Lantas apa yang mau kalian katakan sekarang? Mana berita tentang keberhasilan orang kalian?''

''Maaf, Tuan Menteri,'' ujar Dang Zhua. Hanya itu yang sempat terkatakan lewat mulutnya.

Liu Ta Xia kini tampak lebih cemas daripada tadi. Katanya, ''Lima pukul waktu setelah matahari keluar, Kaisar akan memberikan sabda tentang Ceng Ho yang akan memimpin pelayaran muhibah yang memboroskan keuangan negara.''

Dang Zhua memberanikan diri memberikan saran, ''Setidaknya lima jam cukup untuk merancang gagasan baru, Tuan Menteri.'' Liu Ta Xia marah. ''Lancang!'' katanya, ''Jangan bermain-main dengan waktu. Hukum alam atas hadir atau tersingkir sangat ditentukan oleh kemampuan manusia memanfaatkan waktu.''

Hua Xiong lebih tegas keberaniannya memberikan pendapat pada sang menteri. Katanya, ''Tenanglah, Tuan Menteri. Sudah saya katakan Dang Zhua tidak mungkin salah memilih ular. Ular yang mengemban tugas rahasia ini pasti berhasil. Cepat atau lambat kita akan masuk ke dalam waktu yang membuat kita memikirkan tindakan selanjutnya.''

''Wan San ular yang tidak terlacak,'' kata Dang Zhua. ''Dia pasti memegang rahasia.''

''Kenapa kamu bilang begitu?''

''Sebab, waktu memang sangat perkasa, Tuan Menteri. Siapa tahu sang waktu menghendaki lain.''

Liu Ta Xia berteriak. Dia marah betul. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Dang Zhua. ''Jangan main-main kamu!'' katanya. ''Fajar sudah menyingsing. Apa kamu mau bilang ularmu itu gagal?''

''Kalau ular gagal, setidaknya tikus masih tetap sanggup bermain pada malam gelap?''

''Besok masih ada malam, Tuan Menteri,'' kata Dang Zhua. ''Tikus tidak pernah berhenti bermain dalam gelap. Tikus pun sanggup bermain di comberan sekalipun. Akulah tikus, Tuan Menteri.''

Liu Ta Xia cemberut. Sulit bagi dia menerima berita buruk yang mungkin saja datang sekejap lagi.

Sang waktu jua yang akan menjawab.

***

Dang Zhua, Hua Xiong, dan Liu Ta Xia tinggal menunggu waktu itu. Berita yang menggemparkan. Dan, mereka tidak tahu Ceng Ho yang membuat itu.

Apa yang diperbuat Ceng Ho?

Tadi, ketika malam masih hitam, sehabis mengalahkan dan mematikan semua begundal yang diupah Dang Zhua dan Hua Xiong, Ceng Ho menyeret dan membawa semua mayat mereka ke jalanan menuju ke pasar dan memberdirikan mayat-mayat itu di sana. Seluruh mayat berjumlah 18 sosok. Mereka adalah orang-orang yang mati di jalanan menuju ke rumah Ceng Ho dari perjalanan sehabis salat isya tadi dan yang mati di dalam rumah dan halaman rumahnya. Mayat-mayat itu dia buat seperti orang-orang yang berdiri bersandar di tembok. Setelah melakukan itu, Ceng Ho kembali melanjutkan tidur.

******

Kini, di pagi hari, terjadi kegemparan. Mulut sambung-menyambung dari jalanan ke pasar sampai ke rumah Liu Ta Xia, memberitakan tentang mayat-mayat tersandar di tembok jalan menuju ke pasar. Pembantu-pembantu di rumah Liu Ta Xia pun gaduh menggunjingkan mayat-mayat itu.

Pada waktu itu Liu Ta Xia baru saja hendak tertidur karena letih melek sampai fajar. Dua orang dekatnya, Dang Zhua dan Hua Xiong, malah sudah tertidur di kursi depan serambi rumah Liu Ta Xia. Mendengar kegaduhan itu Liu Ta Xia terjaga.

''Ada apa itu?'' tanya dia ke pembantu rumahnya.

''Orang-orang di pasar geger, Tuan Menteri.''

''Kenapa?'' tanya Liu Ta Xia.

SAM PO KONG [5]
Karya Remy Sylado

''Ada delapan belas mayat diberdirikan di tembok jalan menuju pasar, Tuan Menteri.''

"Apa katamu?''

"Saya tidak bohong, Tuan Menteri. Saya pun baru dari sana, melihat dengan mata kepala sendiri.''

Liu Ta Xia berteriak marah, ''Sudah, diam!''

Dan dia berputar-putar dalam serambi. Saat melihat Dang Zhua dan Hua Xiong masih tertidur di kursi, dia mengambil seember air, lalu membanjurkan ke muka Dang Zhua dan Hua Xiong. Keduanya terbangun, kaget, dan akhirnya melompat. Kata Liu Ta Xia dengan geram, ''Kalian semua cuma burung-burung hwa-mei, berkicau tanpa bukti.''

****

Antara percaya dan penasaran, akhirnya Liu Ta Xia berjalan cepat ke jalanan yang menuju ke pasar tersebut. Dang Zhua dan Hua Xiong mengikuti juga. Sebagai orang besar, menteri, keruan dia mendapat hormat dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Setelah tiba di tempat kedelapaan belas mayat yang diberdirikan di tembok itu, wajah Liu Ta Xia berubah dari merah ke putih. Dia menarik baju Dang Zhua, tetapi kemudian melepaskan kembali, menyadari kalau-kalau orang akan memperhatikan tindakannya. Meski mengendurkan tangan, tidak surut panas hatinya terhadap Dang Zhua.

''Huh, tikus macam apa kamu ini?'' kata Liu Ta Xia. ''Pandir, tolol, dungu. Jangan pula kamu mengaku ularmu itu cerdik.''

Dang Zhua tak membantah. Dia menundukkan kepala sebagai orang yang kalah, rugi, dan sial. Begitu juga Hua Xiong.

''Sekarang terserah nasib,'' kata Liu Ta Xia, ''kalian hanya tikus-tikus got yang buruk.''

Liu Ta Xia berputar badan. Dengan jengkel, menyesal, dan kemarahan yang kian besar, dia langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Dang Zhua dan Hua Xiong mengikuti dari belakang. Baru saja berapa belas meter Liu Ta Xia melangkah, dari arah depan muncul Ceng Ho. Keduanya sama-sama terkesiap.

''Ceng Ho?'' kata Liu Ta Xia menyapa lebih dulu.

''Selamat pagi, Tuan Menteri,'' kata Ceng Ho ramah.

''Kamu baru datang untuk melihat ini?'' tanya Liu Ta Xia.

''Ya. Maaf, Tuan Menteri,'' jawab Ceng Ho, ''kelihatannya Tuan Menteri datang lebih pagi daripada saya.''

''Coba periksa siapa mereka itu?''

''Baik Tuan Menteri, akan saya lakukan.''

Ceng Ho maju.

Liu Ta Xia membalik memandang Ceng Ho. ''Kelihatannya mereka orang-orang Man-Cu.''

''Dari mana Tuan tahu?''

Liu Ta Xia agak kagok. Dia seperti orang buta mencari-cari pegangan. Katanya, ''Saya hanya menduga-duga.''

Liu Ta Xia berlalu. Ceng Ho memandang dari belakang. Dari wajah Ceng Ho terlihat sesuatu yang mengusutkan pikiran. Dia tidak menaruh curiga apa-apa terhadap Liu Ta Xia, walaupun dia tahu betul menteri itu tidak pernah mendukung gagasan Kaisar untuk mengutus misi muhibah ke selatan.

***

Mau tak mau pemajangan mayat-mayat di tembok jalanan menuju ke pasar telah menjadi gunjingan dan topik percakapan yang tak henti-henti. Pergunjingan itu terjadi pula di sebuah rumah minum yang ramai di kota.

Dua orang duduk dengan dua cangkir ciu sedang asyik bertutur.

''Hanya orang yang betul-betul sakti yang mampu membunuh delapan belas orang lantas memasang mayat-mayat itu di tembok seperti patung-patung penjaga kota,'' kata seseorang yang arif. Dia bernama Tan Tay Seng, penyair musafir yang selalu membawa tehyan.*)

''Kira-kira siapa ya?'' kata yang seorang.

''Mungkin Ceng Ho,'' kata Tan Tay Seng.

''Apa urusannya?''

''Siapa tahu orang-orang itu mau menjajal kesaktiannya.''

''Kenapa begitu?''

''Ya, entah,'' jawab Tan Tay Seng, ''tapi, katakanlah itu seperti hukum pasar. Mereka menjual, Ceng Ho membeli. Dan karena yang menjual tidak punya pengetahuan berdagang, mereka langsung gulung tikar.''

''Kenapa kamu mengira yang melakukan itu Ceng Ho?''

''Aku tidak bilang, 'aku yakin.' Tadi aku bilang, 'mungkin ' Ceng Ho.''

''Kalau memang itu mungkin Ceng Ho, lantas apa alasan dia membeli yang dijual?''

''Siapa tahu ada permainan tingkat tinggi di baliknya. Dagang eceran menghasilkan pukulan kecil. Delepan belas orang sekaligus yang mati menunjukkan ini perdagangan dengan modal besar. Aku tidak peduli siapa yang bermain. Buatku keadaan ini menarik. Itu saja.''

Lantas Tan Tay Seng meneguk isi cangkirnya. Gila juga. Pagi baru saja berawal, tapi dia sudah meneguk ciu. Besok lusa orang akan mengetahui bahwa dia pemuda yang tidak bisa disepelekan. Dia termasuk cempiang yang tangguh.

****

Tan Tay Seng pun melangkah santai. Dia melihat ke arah istana Ming. Itulah lambang kebesaran Cina pada masa depan. Dia hanya memandang sekilas. Mungkin dia tahu, mungkin juga tidak, sebentar lagi Zhua Di, sang kaisar, akan mengumumkan gagasannya untuk mengirimkan misi muhibah ke selatan. Menteri-menteri akan hadir di sana. Semuanya.

Di mana Liu Ta Xia menjelang jam-jam pengumuman yang akan dilakukan Zhua Di?

Liu Ta Xia berada di suatu tempat tersembunyi. Di sana ada salah seorang istri raja. Kedengarannya Liu Ta Xia sedang merayu, atau mungkin juga memengaruhi pikiran sang permaisuri.

''Begini, Tuan Putri,'' kata Liu Ta Xia. ''Aku hanya khawatir. Keputusan Kaisar yang diumumkan nanti adalah gagasan yang tidak masuk akal. Selain merupakan pemborosan, keuntungannya sama sekali tidak terbayang. Di samping itu, alasan misi muhibah terlalu mengada-ada. Kalau betul itu misi muhibah, kenapa di dalam pelayaran itu dianggarkan 27.800 tentara? Baik tentara yang sudah ada maupun tentara-tentara milisi. Siapa yang percaya itu?''

''Apa boleh buat, Menteri Liu,'' kata sang permaisuri.

***

Catatan: * ) tehyan adalah sejenis alat gesek yang tergolong tua. Kini terlestari dalam susunan waditra untuk titi laras slendro Betawi.