RSS

Menginginkan
Mempernahkan
Mengalami
Melatihkan
Mempelajari
Mencari

Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan

Metamorfosa Kosong

Karya Rhadar Panca Dahana
Adaptasi "The Terorist" Albert Camus


SATU


SEBUAH RUANGAN. LAMPU 15 WATT TERGANTUNG DI ATASNYA. SATU GELAS BESAR DAN SATU CANGKIR KOPI. HARI BARU SAJA GELAP. SUARA SIRENE LEWAT SEKALI DI KEJAUHAN. RUANGAN ITU, EMPAT KALI LIMA METER. TIGA BUAH BANGKU, BEBERAPA KOTAK KAYU. FITRI DAN DARMO DUDUK TIDAK BERHADAPAN. SUASANA SENYAP. CUKUP LAMA. PENUH GELISAH. SUARA LANGKAH TERGESA, TERDENGAR MENDEKAT. LALU KETUKAN PINTU DENGAN IRAMA TERTENTU.

Menunggu Dialog

ADEGAN I

PANGGUNG KOSONG. PENONTON MASUK DISAMBUT OLEH SURARA MUSIK MENYAYAT NAMUN MONOTON. LAMA-LAMA MENJADI BISING. PADA SCREEN BELAKANG NAMPAK BEBERAPA KEJADIAN SEPERTI DALAM BERITA PADA LAYAR KACA. BENCANA. PENGANIAYAAN. KERUSUHAN. DEMONSTRASI. FILM PANAS. ORASI PARTAI POLITIK. KONSER MUSIK. GAMBAR GEDUNG-GEDUNG TINGGI. TARIAN-TARIAN STRIPTIS. PEPERANGAN. OLAH RAGA. GAMBAR-GAMBAR PARTAI POLITIK. MUSIK MAKIN MENGERAS HINGGA MEMEKAKAN TELINGA. SEKETIKA BERHENTI. SEPI. SUKARDI  DUDUK BERHADAPAN DENGAN SESEORANG YANG MUKANYA TIDAK TAMPAK, RUMMAND.

ORDE MIMPI

Oleh R. Giryadi

BABAK I

DRAMA INI DIMULAI DENGAN SUARA BERDENTANG TANDA KEHIDUPAN DIMULAI. MUSIK RITMIS MENGIRINGI DENTANG YANG BERDENYUT SEPERTI DETAK NADI. LIGTHING PERLAHAN MENYALA MENYINARI ORANG-ORANG DALAM TABUNG BESAR. MULUT DAN MATA MEREKA TERTUTUP RAPAT. SEPERTI SEDANG MENJALANI SEBUAH PROSES KELAHIRAN. DI LUAR TABUNG BESAR, DUA ORANG SEDANG BERCAKAP-CAKAP SERIUS.

Kapai-Kapai

Karya Arifin C. Noor
BAGIAN PERTAMA

DONGENG EMAK

Satu

EMAK
Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung istana cahaya itu, sang Pangeran Rupawan menyelinap diantara pokok-pokok   puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung cahaya  purnama. Adapun sang Putri Jelita, dengan debaran jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan sutranya    

Patung Kekasih

Karya SIMON HATE

PEMATUNG MUDA

PEMATUNG TUA

SRINTIL

WANITA PERTIWI

KACUNG

BABAK I

Studio seorang pematung.
Sesuatu pemandang yang tak selesai: beberapa peralatan disebuah pojok, beberapa patung jadi dan beberapa patung lainnya yang terbengkalai, tata warna kusam – namun siap untuk menggalami perubahan setiap saat. Menuju keremangannya, dari arah depan lurus panggung, muncul perlahan-lahan Wanita Pertiwi. ( entrance ) Kostumnya, rambutnya yang panjang bergerai, matahari wajahnya dan ruh yang menjadi rahasia matanya, serta keseluruhannya — memancarkan alam. Pada sebuah kursi, di pusat panggung, ia berhenti dan duduk menghadap punggung panggung. Ia mematung, tetapi seseorang akan menjadi sangat dungu apabila berani menyangganya sebagai benar-benar patung.

Tiba-tiba, muncul dari stu sudut panggung, Pematung Muda. (entrence) Pematung Muda baru berani sedikit mencuri pandang ke Wanita Pertiwi tatkala sudah berada ditempat yang terbebas dari wajah Wanita Pertiwi.

PEMATUNG MUDA

Pasti saudara-saudara menyesal kenapa ia tidak menghadapkan wajahnya kearah saudara-saudara!tapi justru bersyukurlah, karena apabila sempat saudara-saudara menatap matahari wajahnya serta roh yang menjadi rahasia matanya