Oleh Yanusa Nugroho
Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya.
Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya.
”Sampean sakit?” tanya perempuan itu.
Si lelaki menjawab dengan gelengan kecil. Tak lama kemudian dia membuang rokoknya, bangkit dan berjalan masuk.
Di dalam ruangan sempit itu bau bedak menusuk hidung. Celoteh di sana-sini menebar. ”Lho, Prabu Danaraja kok masih pakai sarung…,” mungkin itu suara Kemit yang malam itu sudah siap dengan kostum Bilung.








