RSS

Menginginkan
Mempernahkan
Mengalami
Melatihkan
Mempelajari
Mencari

Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan

Kembang Dewaretna

Oleh Yanusa Nugroho

"Mas, ayo, sudah setengah delapan, lho…,” suara itu terdengar lembut meskipun ada nada khawatir ketika mengucapkan ajakan itu.

Laki-laki yang masih mencangkung dengan sebatang kereteknya itu menoleh sesaat. Sepasang matanya menatap perempuan yang menyapanya.

Yang ditatap merasakan kekosongan. Sepasang mata itu seperti lorong panjang dan gelap tak berlampu; seperti jalan yang dulu sering dilaluinya.

”Sampean sakit?” tanya perempuan itu.

Si lelaki menjawab dengan gelengan kecil. Tak lama kemudian dia membuang rokoknya, bangkit dan berjalan masuk.

Di dalam ruangan sempit itu bau bedak menusuk hidung. Celoteh di sana-sini menebar. ”Lho, Prabu Danaraja kok masih pakai sarung…,” mungkin itu suara Kemit yang malam itu sudah siap dengan kostum Bilung.

Bayangan Darah

Oleh Yanusa Nugroho

Setelah semua perkelahian ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh? Mungkinkah kebencian adalah kehidupan kita? Dan tanpa itu, kita bahkan tak berbekas sama sekali?

Dua sosok itu termangu oleh pikiran masing-masing. Tubuh mereka menua. Napas mereka memburu, tetapi keinginan untuk saling bunuh masih saja menyala di mata mereka.

”Mengapa tak kau akhiri saja semua ini, di sini, sekarang juga…,” ucap yang satu dengan suara setengah menggeram.

”Aku pun heran, mengapa kau berlama-lama dengan urusan ini?” balas yang satunya dengan suara penuh dendam.

Sejak benda yang konon turun dari langit itu berada di tangan Anjani, kedua laki-laki itu seperti tersihir untuk merebutnya. Tak perlu alasan lain, keduanya sangat ingin memiliki benda ajaib yang berasal dari matahari itu. Benda yang mampu melihat dunia dan isinya. Benda yang berisi pengetahuan tentang masa lalu dan mendatang. Benda yang mampu menjawab apa yang masih menjadi pertanyaan manusia.

Raja Kuru

Oleh Yanusa Nugroho

Kurusetra (Mahabarata)
Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana.
Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, Duryudana agak tenteram.

Piala anggur di tangan kirinya. Rambutnya kusut. Wajahnya keruh dimainkan cahaya api minyak. ”Suruh Togog kemari.” perintahnya dingin pada penjaga ruangan.

Sang penjaga segera undur dan beberapa saat kemudian kembali bersama seorang laki-laki tua, gemuk. Laki-laki itu membawa sebuah kotak, berisi sitar.